Tol Trans Jawa memberi pelajaran penting. Kota-kota pantura seperti Tegal, Pekalongan, dan Kendal dulunya ramai karena jadi jalur utama perjalanan jarak jauh. Setelah tol beroperasi, banyak kendaraan langsung masuk tol tanpa singgah. Akibatnya, rumah makan, SPBU kecil, dan penginapan sederhana di jalur lama menjadi sepi, bahkan ada yang tutup. Kini, banyak usaha di jalur lama meredup karena pengunjung berkurang drastis. Namun, ada daerah yang bisa beradaptasi, misalnya Tegal, yang membuka pusat kuliner dan perdagangan di dekat pintu keluar tol sehingga tetap menarik pengunjung. Pelajaran pentingnya adalah: kota transit harus cepat beradaptasi agar tidak kehilangan peran ekonominya.
Bumiayu adalah pusat aktivitas masyarakat di Brebes Selatan, mencakup wilayah Tonjong, Sirampog, Paguyangan, Bantarkawung, dan Salem. Selama ini, Bumiayu menjadi titik singgah alami bagi orang yang bepergian dari Purwokerto ke arah Tegal atau Brebes. Banyak orang berhenti di sini untuk makan, beristirahat, atau mengisi bahan bakar.
Saat ini Bumiayu mulai berkembang pesat. Tempat kuliner, pusat belanja, dan hiburan semakin banyak bermunculan. Kota ini tidak lagi sekadar tempat singgah, tetapi mulai menjadi destinasi kecil dengan daya tarik tersendiri. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa Bumiayu punya potensi besar, namun juga rentan jika arus kendaraan beralih ke tol.
Dalam lima tahun setelah tol beroperasi, arus kendaraan jarak jauh kemungkinan akan beralih ke jalur tol. Bumiayu yang selama ini hidup dari pelintas jalan bisa kehilangan banyak pengunjung. Rumah makan, toko oleh-oleh, dan penginapan sederhana berisiko kehilangan pelanggan. Sektor ekonomi yang bergantung pada mobilitas orang akan terguncang.
Jika tidak ada strategi adaptasi, Bumiayu bisa mengalami penurunan aktivitas ekonomi. Pertumbuhan kuliner dan hiburan yang kini sedang naik bisa stagnan atau bahkan merosot. Brebes Selatan sebagai wilayah yang terdiri dari banyak kecamatan dengan pembangunan yang cenderung berjalan sendiri-sendiri juga berpotensi kesulitan menyatukan strategi. Tanpa koordinasi, dampak negatif bisa lebih besar dan sulit diatasi. Jika setiap kecamatan bergerak sendiri, maka kekuatan adaptasi akan lemah.
Untuk mengantisipasi, perlu ada pusat ekonomi baru di sekitar pintu keluar tol yang bisa menjadi magnet pengunjung. Pemerintah daerah yang dalam hal ini Pemerintah Kabupaten harus mendorong kerja sama lintas kecamatan agar strategi pembangunan lebih terarah. Selain itu, promosi wisata lokal, pengembangan usaha baru, dan peningkatan kualitas layanan kuliner serta transportasi harus dilakukan bersama-sama. Dengan langkah ini, Brebes Selatan bisa tetap hidup meski pola perjalanan berubah drastis.


0 comments