Tentang Janji yang Harus Kutepati

 


Ada masa ketika janji adalah sesuatu yang sederhana, seperti kalimat ringan yang meluncur begitu saja dari bibir, tanpa beban, tanpa ragu. Namun, justru di masa itu aku memaknainya dengan begitu dalam.

Aku pernah menjadi seseorang yang percaya bahwa setiap janji adalah utang yang harus dilunasi.

Setiap janji yang terucap, sebisa mungkin aku tepati, bukan karena ada yang menagih, bukan pula karena takut dianggap buruk, melainkan karena ada sesuatu di dalam diri yang tak pernah benar-benar tenang jika sebuah janji dibiarkan terutang. Rasanya seperti ada bagian kecil dari diriku yang tertinggal di belakang, menggantung, tak selesai.

Aku ingat masa remaja itu.

Ketika aku berjanji untuk berkunjung ke suatu tempat, entah sekadar menemui seseorang atau memenuhi undangan kecil yang mungkin dianggap sepele oleh orang lain, namun bagiku, janji itu seperti sebuah garis yang harus kutapaki hingga ujungnya. Meski hujan turun tanpa ampun, meski jalanan licin dan langkah terasa berat, bahkan ketika satu-satunya pilihan adalah berjalan kaki, aku tetap pergi.

Payung yang tertiup angin, pakaian yang basah kuyup, sendal yang penuh lumpur, semua itu terasa tidak berarti dibanding satu hal, aku harus tiba di sana, karena aku sudah berjanji.

Saat itu, dunia terasa sederhana, janji adalah ya atau tidak, datang atau tidak datang, menepati atau mengingkari.

Namun waktu, seperti biasa, tidak pernah berhenti mengajarkan hal-hal yang tidak pernah kita duga.

Semakin dewasa, aku mulai menyadari sesuatu yang perlahan mengusik keyakinanku dulu, bahwa tidak semua janji bisa selalu ditepati, bukan karena kita berubah menjadi orang yang tidak bertanggung jawab, bukan pula karena kita mencari-cari alasan.

Melainkan karena hidup ternyata jauh lebih rumit dari sekadar niat.

Ada hal-hal yang bergerak di luar kuasa kita, waktu yang tidak bisa dikendalikan, keadaan yang tiba-tiba berubah, prioritas yang saling berbenturan. Bahkan orang-orang yang terlibat dalam janji itu pun bisa memandangnya dengan cara yang berbeda.

Apa yang bagiku adalah kewajiban, mungkin bagi orang lain hanyalah kemungkinan, apa yang bagiku adalah komitmen, bagi sebagian orang mungkin hanya sekadar rencana.

Di situlah aku mulai belajar bahwa menepati janji bukan hanya soal kemauan, tetapi juga soal batas kemampuan.

Ada rasa perih yang pelan-pelan tumbuh setiap kali aku tak bisa menepati sesuatu yang pernah kujanjikan, rasa bersalah yang tidak selalu bisa dijelaskan, seperti kehilangan sedikit kepercayaan dari diri sendiri.

Sampai akhirnya aku menyadari keterbatasan itu.

Bahwa menjadi manusia berarti hidup dalam ruang yang tidak selalu bisa kita atur sepenuhnya, bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan, sekeras apa pun kita mencoba.

Namun menyadari keterbatasan bukan berarti aku menjadi seseorang yang menganggap remeh janji.

Justru sebaliknya.

Aku belajar untuk lebih hati-hati saat mengucapkannya, lebih perlahan dalam memberi kepastian, dan lebih jujur pada diri sendiri tentang apa yang benar-benar bisa kulakukan.

Karena aku tahu, setiap janji yang terucap tetap membawa harapan, pada orang lain, dan juga pada diriku sendiri.

Kini, ada satu prinsip sederhana yang terus kujaga,

jika ada janji yang terasa sulit untuk kutepati, maka lebih baik aku tidak berjanji.

Bukan karena aku takut gagal, tetapi karena aku tak ingin meninggalkan luka kecil di hati orang lain, atau di dalam diriku sendiri, yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal.

Aku mungkin tidak lagi selalu berhasil menepati setiap janji seperti dulu, hidup telah mengajarkanku bahwa itu tidak selalu mungkin.

Namun satu hal yang masih sama,


aku tetap ingin menjadi seseorang yang memandang janji sebagai sesuatu yang berharga, sesuatu yang tidak diucapkan dengan mudah, dan tidak dilupakan begitu saja.


Previous Post Next Post

نموذج الاتصال