BLANTERORBITv102

HUTANG: MEMUTUS SILATURAHMI?

Saturday, February 7, 2026

 


Tempo hari saya kembali berurusan dengan yang namanya hutang. kali ini saya menjadi pihak yang akan dihutangi. Seorang saudara mengirim pesan lewat whatsapp dengan kalimat yang kurang lebih seperti ini: "Di, tolong lagi ada keperluan sekian juta harus dibayar 2 hari lagi, tolong bantu". 

Jam itu saya lagi kerja dan sedang berpacu dengan due date, saya balas dengan bahasa sesantun mungkin "Punten, kemarin saya habis bayar biaya rumah sakit ortu, jadi bulan ini saya tidak ada spare". Kemudian dibalas lagi dengan sedikit menekan: "tolong diusahakan!". saya pun jadi balas tetap tidak bisa. 

Kemudian diakhiri dengan balasan yang saya terima seperti ini: "Percuma kontak saudara, ga ada gunanya, dulu saya bantu kamu bla bla bla". kemudian yang bersangkutan update status di facebook intinya "kalo kita miskin ga diaku saudara, kalau kaya diaku" kira-kira seperti itu intinya. 

Saya membatin, mau menghitung berapa yang sudah saya bantu, tapi tidak elok. soal kesan bahwa kita tidak mengaku saudara menurut saya itu klaim sepihak. sampai detik ini pun saya masih sangat menganggap saudara. bahkan saya diblok whatsapp saya. saya menyayangkan tapi itu hak dia dan pasti saya hormati.

Kejadian seperti ini tidak hanya sekali-dua kali, jadi saya hafal polanya. hanya karena saudara saya selalu maklum, dan sebagai informasi istilah "pinjam" ini bergeser, sampai saya anggap itu bukan pinjaman. Polanya, ada kebutuhan mendesak - pinjam buru-buru dan harus ada - kalau tidak ada marah atau kecewa.

Saya melihat ada sesuatu yang salah, setidaknya seperti ini:

1. Management keuangan yang buruk
Kita yang ekonominya menengah ke bawah, sesekali kita mungkin menghadapi kebutuhan mendadak yang kita tidak antisipasi, namun jika berulang-ulang artinya kita tidak punya perencanaan yang baik

2. Kebingungan mana yang tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab orang lain.
Menunjukkan kekecewaan ketika saya tidak bisa membantu, walaupun saya kemudian merogoh 1 juta untuk membantu tapi masih menunjukkan kecewa, ini tanda bahwa orang tersebut tidak mampu membedakan tanggung jawab pribadi dan orang lain. merasa bahwa orang lain (walaupun saudara) harus bertanggung jawab terhadap kebutuhannya tentu saja keliru. 

3. Etika pinjam meminjam.
yang saya pahami dalam urusan pinjam meminjam adalah meminta bantuan tentunya boleh, dan sah-sah saja, namun kondisi orang yang diminta bantuan (dalam hal ini hutang) tentunya tidak selalu dalam keadaan bisa membantu. jadi memaksa atau bahkan kecewa jika tidak dibantu adalah bentuk ketidakpengertian. dan dalam hal hutang, harus menunjukkan itikad untuk mengembalikan, dan hutang sebelumnya harus dituntaskan. jika tidak berniat hutang, jangan pakai akad hutang tapi meminta bantuan. 

Jadi apakah hutang memutus silaturahmi? jawabannya tidak karena saya juga pernah meminjam uang (untuk beli rumah) ke saudara namun saya punya komitmen mengembalikan, dan jika ada keterlambatan saya memberitahukan.

Yang memutus silaturahmi adalah etika dan komitmen dalam pinjam meminjam. 



Author

Dhipran