Di Antara Sayap Dan Perpisahan



Dulu, waktu aku masih kecil, ayahku pernah membelikan sepasang burung dara. Sepasang kecil yang manis, selalu bersama, seolah tak pernah ingin terpisah. Jika mereka manusia, mungkin mereka adalah sepasang remaja yang sedang tenggelam dalam cinta pertama - lugu, hangat, dan penuh rasa ingin selalu dekat.

Setiap hari aku melihat mereka. Si jantan sering berdiri gagah, sesekali mengembangkan dada, sementara si betina setia di sisinya. Mereka saling mendekatkan kepala, seperti berbisik hal-hal yang hanya mereka pahami. Aku suka melihatnya, tanpa benar-benar mengerti betapa dalam ikatan itu.

Suatu hari, seorang teman yang lebih besar mengajakku melakukan sesuatu yang menurutnya seru: melepas burung dara jantan dari sawah yang cukup jauh dari rumah. Katanya, itu latihan agar burung bisa pulang sendiri. Aku menurut saja, dengan hati yang polos dan sedikit berdebar.

Kami sampai di sawah, angin berhembus pelan, langit luas membentang. Harusnya burung dilepas menghadap arah berlawanan dari rumah, agar ia mencari jalan pulang. Tapi aku salah, aku melepasnya menghadap ke arah rumah, dengan keyakinan yang keliru.

Saat tangan kecilku membuka genggaman, burung jantan itu terbang. Sayapnya mengepak cepat, naik ke langit, berputar-putar di udara. Tapi bukan seperti burung yang tahu arah pulang… ia berputar dengan gelisah. Bingung. Seolah mencari sesuatu yang tak ia temukan.

Aku mulai panik.

Aku berlari, kembali mengambil si betina di tangan. Aku pikir, kalau mereka melihat satu sama lain, pasti semuanya akan baik-baik saja. Aku berlari di tengah sawah, menengadah ke langit, memanggil tanpa suara.

“Ini… pasanganmu di sini…”

Namun di langit, ia terus berputar. Ia terlihat, sangat jelas di mataku, tapi… aku sadar sesuatu, dia tidak bisa melihatku. Tidak bisa melihat pasangannya yang kubawa. Dunia kami terasa terpisah oleh sesuatu yang tak kasat mata.

Waktu berjalan begitu lama dalam kepanikan kecilku. Putaran di langit itu semakin menjauh… semakin kecil… hingga akhirnya.

hilang.

Langit kembali kosong.

Aku berdiri diam, dengan si betina yang kini terasa sunyi di tanganku. Ia tak lagi gelisah. Mungkin ia sudah tahu. Atau mungkin hatinya juga kosong seperti langit di atasku.

Aku pulang sambil menangis.

Takut dimarahi ayah, ya… tapi bukan itu yang paling membuatku hancur. Hari itu, aku sadar, tanpa sengaja, aku telah memisahkan dua makhluk yang saling mencintai. Dua hati yang sedang hangat-hangatnya bersama. Dua jiwa yang tak pernah membayangkan harus berpisah.

Sejak hari itu, rasa bersalah itu tinggal. Tidak hilang.

Bahkan sampai hari ini, ketika aku sudah jauh lebih dewasa, ingatan itu kadang datang diam-diam. Tentang seekor burung jantan yang berputar kebingungan di langit… dan seekor burung betina yang menunggu tanpa pernah benar-benar mengerti ke mana pasangannya pergi.

Aku masih merasa kasihan.

Dan dalam hati, aku selalu ingin mengatakan sesuatu.

“Maafkan aku…
karena waktu itu, aku belum tahu
bahwa cinta sekecil itu pun
bisa terasa sebesar kehilangan.”

Previous Post Next Post

نموذج الاتصال