Jumat itu datang seperti biasa, pekerjaan selesai, badan terasa lelah, dan pikiran masih dipenuhi sisa aktivitas seharian. Namun ada satu hal yang berbeda, sore itu saya sudah memutuskan untuk pulang ke Bumiayu dengan motor Honda CBX150.
Langit Jakarta mulai turun gerimis saat saya bersiap. Tidak deras, tapi cukup membuat langkah terasa sedikit tertahan. Seorang teman kerja sempat bertanya, dengan nada yang wajar, seolah mencoba memastikan.
“Yakin mau lanjut, kondisi begini?”
Saya menjawab singkat, “Iya, saya jalan.”
Bukan tanpa pertimbangan, tapi lebih karena keputusan itu sudah saya tetapkan. Ada momen di mana kita tidak perlu menunggu kondisi sempurna untuk memulai.
Perjalanan dimulai dari Jakarta Barat, mesin CBX150 mulai bekerja membawa saya keluar dari keramaian. Jalanan padat, kendaraan saling berdekatan, dan ritme kota terasa cepat. Menuju Jakarta Timur, lalu berlanjut ke Bekasi, Cikarang, hingga Karawang, semuanya masih dipenuhi aktivitas. Fokus sepenuhnya ada di jalan, belum ada ruang untuk benar-benar menikmati perjalanan.
Di titik itu, sempat muncul keraguan kecil. Lelah masih terasa, cuaca belum sepenuhnya bersahabat, dan perjalanan masih panjang. Namun roda terus berputar, dan saya memilih untuk tetap melanjutkan.
Setelah melewati Cikampek dan masuk ke arah Pantura, suasana perlahan berubah. Jalan tidak lagi seramai sebelumnya. Lampu kendaraan mulai jarang, suara klakson menghilang, berganti dengan dengungan mesin yang konstan.
CBX150 melaju di jalan yang lebih lengang, dan di situlah perasaan mulai bergeser. Ada sedikit kekhawatiran karena perjalanan dilakukan sendiri, di malam hari, dengan jalan yang panjang dan sunyi. Namun di saat yang sama, ada ketenangan yang perlahan muncul.
Tidak lama kemudian, saya melihat rombongan motor Xmax melaju di depan. Tanpa banyak berpikir, saya menyesuaikan kecepatan dan mengambil posisi di belakang mereka. Tidak ada percakapan, tidak ada saling sapa, tetapi keberadaan mereka memberikan rasa aman yang sederhana.
Kadang, kebersamaan memang tidak harus dimulai dengan kata-kata.
Target saya malam itu adalah Cirebon, sebelum tengah malam. Sebuah hotel sudah saya pesan sebelumnya, sekadar tempat untuk beristirahat. Ketika akhirnya sampai, ada rasa lega yang terasa cukup dalam. Bukan euforia, tapi semacam kepastian bahwa perjalanan dari Jakarta telah terlewati dengan baik.
Pagi harinya, sekitar pukul lima setelah sholat subuh, perjalanan kembali dilanjutkan. Suasana berbeda sepenuhnya. Udara lebih segar, jalanan masih lengang, dan semuanya terasa berjalan lebih pelan.
Ini bagian yang paling terasa dekat.
CBX150 melaju stabil di kecepatan 110 hingga 120 kilometer per jam. Jalan terbentang panjang tanpa hambatan, angin pagi menyentuh dengan lembut, dan pikiran terasa lebih jernih. Tidak ada kebisingan kota, tidak ada distraksi, hanya suara mesin dan ritme perjalanan yang konsisten.
Di momen itu, tanpa disadari, saya mulai lebih banyak diam. Bukan karena tidak ada yang dipikirkan, tetapi justru karena semua terasa lebih sederhana. Ada ruang untuk mendengarkan isi kepala sendiri, sesuatu yang jarang terjadi di tengah rutinitas.
Perjalanan yang awalnya hanya tentang pulang, perlahan berubah menjadi waktu untuk memahami.
Sekitar dua jam kemudian, saya tiba di Bumiayu. Jam menunjukkan 07.30 pagi. Waktu yang singkat, namun terasa cukup panjang untuk membawa banyak hal di dalamnya.
Di Bumiayu, saya hanya menghabiskan dua hari. Tidak banyak aktivitas, lebih banyak menikmati suasana yang tenang dan memberi tubuh waktu untuk benar-benar beristirahat.
Saat waktunya kembali ke Jakarta, saya memilih menggunakan kereta. Bukan karena tidak ingin kembali mengendarai CBX150, tetapi agar kondisi tetap terjaga dan siap kembali bekerja di hari Senin.
Perjalanan ini tidak menghadirkan cerita besar atau kejadian luar biasa. Namun justru dalam kesederhanaannya, ada sesuatu yang terasa utuh.
Terkadang, kita hanya perlu menempuh perjalanan, cukup jauh untuk menjauh sejenak, dan cukup tenang untuk kembali mendengar diri sendiri.

